MENGAPA BERFILSAFAT ?

Pertanyaan-pertanyaan seperti “Mengapa seseorang perlu berfilsafat?”, atau “Untuk apa seseorang berfilsafat?”, yang terkadang bernada curiga ini, secara khusus dianalisis dalam bagian ini. Pertanyaan mendasarnya, “Mengapa (manusia) berfilsafat ?”

Benarkah anggapan bahwa filsafat tidak membawa apa-apa bagi kepentingan manusia atau masyarakat pada umumnya? Bahwa filsafat hanya milik para filsuf dan mahasiswa filsafat? Kemudian, benarkah juga proposisi bahwa filsafat tidak mungkin dapat mempertanggungjawabkan pemikiran-pemikiran yang dihasilkan darinya, karena para filsuf adalah kumpulan pengelamun saja? Lagipula, mengapa harus filsafat yang berperanan dalam hal-hal yang kini “ditangani” oleh filsafat? Apakah tidak ada hal lain di luar filsafat yang mampu menyelidikinya? Pertanyaan-pertanyaan kritis tersebut akan dicoba diperiksa pada keseluruhan sub-sub menu Mengapa Berfilsafat? ini.

K O D R A T

Cara terpenting untuk memahami apa itu filsafat tidak lain adalah dengan berfilsafat. Berfilsafat, artinya menyelidiki suatu permasalahan dengan menerapkan argumen-argumen yang filosofis. Yang dimaksud dengan argumen-argumen yang filosofis adalah argumen-argumen yang memiliki sifat-sifat: deskriptif, kritis atau analitis, evaluatif atau normatif, spekulatif, rasional, sistematis, mendalam, mendasar, dan menyeluruh. Dengan perkataan lain, berfilsafat berarti: mempertanyakan dasar dan asal-usul dari segala-galanya, mencari orientasi dasar bagi kehidupan manusia.

Dalam rangka berfilsafat itu, ada empat sikap batin yang diperlukan:

  • Keberanian untuk menguji secara kritis hal-hal yang kita yakini.

  • Kesediaan untuk mengajukan hipotesis-hipotesis tentatif dan memberikan tanggapan awal terhadap suatu pernyataan filsafat, tidak peduli sekonyol apa pun tampaknya tanggapan kita pada saat itu.

  • Tekad untuk menempatkan upaya mencari kebenaran di atas kepuasan karena “menang” atau kekecewaan karena “kalah” dalam perdebatan.

  • Kemampuan untuk memisahkan kepribadian seseorang dari materi diskusi, agar tidak menyebabkan kekaburan berpikir atau konflik pribadi sehingga dapat menghambat proses diskusi filsafat.

  • Pokok pertanyaan kita adalah, “Mengapa (kita) berfilsafat?” atau “Untuk apa (kita) berfilsafat?” Salah satu jawaban yang terkesan spekulatif namun paling mungkin adalah, “Karena pada suatu saat kita secara tidak sadar sudah bergelut dengan suatu permasalahan filsafat, yang dengan sendirinya jadi bahan pemikiran kita.” Meskipun kita tidak memiliki minat untuk belajar filsafat, ada masalah-masalah filsafat yang mau tak mau menarik perhatian kita. Masalah persisnya tentu berbeda dari orang ke orang. Kita mungkin akan terserap dalam suatu pembahasan filsafat walaupun persoalan yang dibahas kelihatannya sama sekali tidak “filosofis”. Entah kita seorang mahasiswa filsafat atau bukan, kita dapat saja terbawa ke arah pemikiran filsafat. Ringkasnya, setiap orang pasti menyimpan asumsi-asumsi atau keyakinan-keyakinan filsafat. Dengan demikian, pertanyaannya bukan lagi haruskah kita menangani permasalahan filsafat, melainkan bagaimanakah caranya.

    Daya tarik filsafat seringkali membuat kita lebih peka terhadap hal-hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Beberapa kita yang Kristen mungkin termasuk orang-orang yang sedari kecil terbiasa mengucapkan doa “Bapak Kami” setiap pagi di sekolah tanpa pernah memikirkan bagaimana pendapat orang-orang ateis, Yahudi, atau non-Kristiani lain mengenai hal itu. Ada orang-orang dewasa yang kerap menguliahi anak-anak mereka tentang betapa jahatnya pengaruh ganja, sementara mereka sendiri sibuk membereskan meja dan mempersiapkan minuman alkohol untuk pesta akhir pekan bersama kawan-kawan. Kita hidup dalam sistem yang konon berprinsip perdagangan bebas, tetapi dalam sistem itu perusahaan yang lebih besar dan lebih kuat bisa mendapatkan perlakuan khusus dari Pemerintah, sementara perusahaan-perusahaan yang lebih kecil tertindas dan berguguran. Lalu, bagaimana dengan “semua sama di depan hukum”? Benar, kita semua tentu setuju, meskipun nyatanya orang-orang kaya mempunyai posisi yang lebih baik untuk menghindar dari tuntutan hukum dibanding mereka yang miskin. Contoh lain, bagaimana dengan mereka yang meyakini adanya U.F.O.? Orang-orang gila? Akan tetapi, kemungkinan mereka mengalami gegar budaya ternyata jauh lebih kecil dibanding kita yang tidak percaya U.F.O., yakni ketika atau apabila suatu saat nanti terungkap bahwa ternyata “kita tidak sendirian” di alam raya ini. Di bawah ini, di tingkat akar rumput macam inilah, awal mula berkembangnya persoalan besar filsafat.

    Rangsangan untuk mulai berfilsafat seringkali muncul ketika orang berhadapan dengan sebuah pernyataan yang dirasanya sebagai keliru. Misalnya, kita pasti akan terusik ketika mendengar pernyataan sembrono semacam ini: “Orang tidak harus bertanggungjawab atas perbuatannya.” Contoh lain, orang ateis mana yang tidak akan tergelitik oleh pernyataan, “Allah benar-benar ada, dan saya telah menemukan alasan-alasan untuk membuktikannya”? Jika suatu pernyataan ternyata didukung oleh argumentasi yang masuk akal, orang bisa kehabisan akal. Dalam benaknya berkecamuk: pernyataan itu mustahil benar, tapi sepertinya alasan-alasan yang masuk akal juga untuk mempercayai kebenarannya.

    Bahkan, mereka yang tidak menaruh minat pada teori-teori filsafat bisa saja tertarik pada satu dua permasalahan filsafat tertentu. Tujuan utama pengantar filsafat biasanya adalah mengamati beberapa contoh penting permasalahan filsafat. Teori-teori filsafat, yang seringkali kompleks dan tak jarang rumusannya aneh-aneh itu, kiranya tidak akan menarik minat sebelum seseorang tahu bagaimana teori-teori tersebut sebenarnya menjawab permasalahan filsafat yang dihadapinya. Percuma memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang belum diajukan.

    Sama seperti kaum profesional lainnya, para filsuf seringkali menulis dalam bahasa khusus menurut spesialisasi bidangnya dalam mempertahankan atau mengkritik suatu teori. Tidak jarang, teori-teori yang disoroti merupakan reaksi atas masalah-masalah yang lain lagi. Namun, tidak peduli sekompleks dan seberat apapun, teori-teori tersebut pada dasarnya adalah tanggapan terhadap masalah-masalah biasa seni, moralitas, ilmu pengetahuan, agama, dan akal sehat. Di pinggiran-pinggiran wilayah keseharian inilah para filsuf menemukan soal-soal yang tersembunyi; mereka tidak mengadakan masalah. Di dalam wilayah keseharian itu tersimpan masalah-masalah yang sangat mungkin akan membawa seseorang masuk ke dalam suatu kajian filsafat secara umum.

    Untuk memberi gambaran, mari kita lihat bagaimana orang-orang yang bukan filsuf dapat terbawa kepada pemikiran filsafat, biasanya melalui persoalan-persoalan yang secara langsung relevan dengan kepentingan mereka. Perhatikan contoh-contoh berikut:

    1. Seorang neuropsikolog, yang sedang meneliti korelasi antara fungsi-fungsi tertentu otak manusia dan rasa sakit, mulai sangsi, apakah “akal budi” sungguh berbeda dengan otak.

    2. Seorang ahli fisika nuklir, setelah berketetapan bahwa materi sebagian besar adalah ruang hampa yang di dalamnya terjadi transformasi-transformasi energi tanpa warna, mulai bertanya-tanya, sejauh manakah dunia yang padat, berkeluasan, dan berwarna seperti yang kita persepsikan ini berkaitan dengan keberadaannya yang sesungguhnya dan manakah di antara keduanya itu yang lebih “nyata”.

    3. Seorang psikolog aliran behaviorisme, yang semakin berhasil memprediksikan perilaku manusia, bertanya-tanya, adakah tindakan manusia yang dapat dikatakan “bebas”.

    4. Mahkamah Agung, ketika merumuskan suatu peraturan tentang karya seni yang sopan dan yang tidak sopan, terpaksa harus bergelut dengan pertanyaan tentang hakikat dan fungsi seni.

    5. Seorang teolog, setelah kalah perang melawan sains mengenai arti harfiah alam semesta (atau “kenyataan”), terpaksa harus merumuskan kembali seluruh tujuan dan cakupan teologi tradisional.

    6. Seorang antropolog, yang mengamati bahwa setiap masyarakat ternyata memiliki konsepsinya sendiri tentang kode moral, mulai mempertanyakan apa sebenarnya yang membedakan antara sudut pandang moral dan sudut pandang bukan moral.

    7. Seorang ahli bahasa, dalam penyelidikannya tentang bagaimana bahasa membentuk pandangan kita terhadap dunia, menyatakan bahwa tidak ada satu “kenyataan sejati” karena semua pandangan mengenai kenyataan dikondisikan dan dibatasi oleh bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan pandangan-pandangan itu.

    8. Seorang skeptis sejati, yang telah terbiasa menuntut dan menolak bukti-bukti absolut bagi setiap sudut pandang yang ditemuinya, menyatakan bahwa tidak mungkin bagi manusia untuk mengetahui apapun.

    1. Seorang komisaris daerah, ketika harus menentukan peraturan baru mengenai pembatasan wilayah, mulai bertanya-tanya, apakah akibat ataukah maksud (ataukah keduanya) yang menyebabkan peraturan itu diskriminatif.

    1. Seorang kepala perpajakan, ketika harus menentukan organisasi-organisasi religius mana saja yang harus dibebaskan dari pajak, terpaksa harus merumuskan apa yang dimaksudkan dengan “religius” dan apa “kelompok religius”.

    1. Seorang ibu, yang bertekad untuk “mempertobatkan” anaknya yang komunis, terpaksa harus membaca Comunist Mainfesto dan belajar mengenai ideologi Marx dan kapitalis.

    Daftar itu masih bisa kita tambahi dengan sekian banyak contoh lain. Yang jelas, kita sudah dapat melihat bahwa ketika dihadapkan dengan suatu persoalan yang relevan, bahkan orang yang bukan filsuf pun sangat mungkin tergiring ke dalam suatu pemikiran filsafat. Jika orang yang bukan filsuf itu tetap tidak dapat melihat pentingnya tujuan bidang filsafat, cobalah mengajukan suatu permasalahan filsafat yang secara khusus berkaitan dengan minat atau kepentingannya. Ketika ia menguji kemungkinan-kemungkinan jawaban atas permasalahannya, mungkin ia akan menemukan kecenderungan atau kertertarikan pada suatu tesis filsafat tertentu.

    Kita mungkin baru sadar bahwa diri kita sudah ada di dalam filsafat dan terlibat dalam persoalan-persoalannya, tidak hanya berdiri di luar dan menunggu sampai diyakinkan bahwa kita harus terlibat di dalamnya. Bolehlah dikatakan bahwa kodrat berfilsafat telah ada di dalam diri setiap manusia, karena lingkungan dan bahkan kita sendiri sesungguhnya telah menyimpan permasalahan-permasalahan filsafat. Kita dapati di sini sebagian dari kebenaran pernyataan bahwa “Semua orang memang filsuf”. Namun harus dicatat juga bahwa sedikit sekali orang yang berfilsafat secara sistematis. Karena disadari bahwa untuk itu diandaikan suatu sikap ilmiah yang baru diperoleh setelah studi bertahun-tahun.

    Demikian Magnis, “Kalau berfilsafat disamakan dengan berkhayal saja, dengan berpikir berputar-putar tanpa tertib, kalau filsafat dipakai sebagai pentil untuk mengelamun, saya kira filsafat semacam itu tidak kita perlukan. Biarpun laku dalam masyarakat, biarpun dapat barangkali kita jual kepada orang awam sebagai ‘kebijaksanaan’, sebenarnya kita mengibulkan masyarakat dengan itu. Kita akan menjadi tukang candu sebagaimana dituduhkan Marx kepada agama.”

    MANFAAT (1)

    Bagi banyak orang, pertanyaan “Untuk apa berfilsafat?” menyiratkan suatu kepentingan praktis, yaitu “Apa manfaat filsafat untukku, selain pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri?” Ada sebuah jawaban yang juga praktis untuk pertanyaan itu. Keterlibatan kita secara kritis dalam filsafat dapat mengubah keyakinan-keyakinan dasar kita, termasuk sistem nilai yang kita miliki dan bagaimana kita memandang dunia secara umum.

    Perubahan sistem nilai atau pandangan-pandangan dunia kita itu dapat mengubah perspektif kebahagiaan kita, tujuan yang hendak kita kejar dalam profesi kita, atau sekadar gaya hidup kita. Namun, manfaat-manfaat itu lebih merupakan hasil sampingan saja, bukan tujuan yang spesifik, dari kajian filsafat.

    Tidak sulit untuk mencari contoh relevansi praktis yang muncul ketika kita mengambil pandangan filsafat tertentu. Misalnya, jika betul tidak ada tindakan yang benar-benar bebas, maka kita harus mempertimbangkan kembali pandangan kita mengenai hukuman mati dan rehabilitasi para narapidana. (Mengapa harus menghukum orang yang tidak mampu mengendalikan perbuatannya?) Contoh lain, pilihan yang kita jatuhkan dalam pemungutan suara berkaitan dengan pro-kontra suatu masalah atas pemilihan seorang kandidat dapat sangat dipengaruhi oleh pandangan filsafat politik tertentu yang kita miliki. Contoh lain lagi, jika betul keindahan itu hanya ada di mata pengamat, bagaimana kita dapat menentukan bahwa suatu karya seni layak dianugerahi penghargaan sebagai karya seni “terbaik”? dan konsepsi kita mengenai perilaku mana yang bermoral dan mana yang tidak bermoral niscaya akan berakibat sangat jauh bagi relasi personal kita dengan orang lain.

    Lebih lanjut, seandainya saja kita melihat bahwa diri kita merupakan bagian tak terpisahkan dari alam, barangkali kita tidak akan terlalu bernafsu menguasai dan menaklukkannya, dan kita pun mungkin tidak akan terlalu menderita akibat tindakan perusakan alam. Contoh lain, jika dalam arti tertentu pandangan dunia Barat dapat “di-Timur-kan”, maka akan lebih mudah bagi orang Barat untuk menjelaskan dan menerima fenomena akupuntur. Itu semua hanya beberapa contoh untuk menunjukkan relevansi kajian permasalahan filsafat dengan kehidupan sehari-hari. Bacalah juga beberapa jurnal filsafat. Di situ kita mungkin akan menjumpai artikel-artikel dengan judul semacam ini: “IQ: Keturunan dan Ketidakadilan”, “Eutanasia”, “Perilaku Paternalistik”, “Memaklumi Pemerkosaan”, atau “Rudal dan Moral: Pandangan Utilitarian tentang Perlucutan Senjata Nuklir”.

    Sebelum kita beranjak lebih jauh, ada satu hal yang perlu diingat. Penelusuran sebab-sebab terjadinya perubahan pada keyakinan-keyakinan dasar seseorang seringkali adalah persoalan psikologi, bukan tugas filsafat, dan tidak dapat ditangani oleh seorang filsuf. Memang perubahan semacam itu dapat terjadi karena seseorang mempelajari filsafat, sama seperti karena ia mempelajari bidang studi lain atau karena ia mendapat tekanan dari teman-teman sebayanya. Namun, dengan berfilsafat atau melibatkan diri secara kritis dalam persoalan-persoalan filsafat, tidak ada jaminan bahwa keyakinan-keyakinan seseorang akan berubah. Juga tidak bisa dikatakan bahwa memang sebaiknya terjadi perubahan. Ada orang yang merasa bahwa dengan mempelajari filsafat keyakinan agamanya semakin diteguhkan, sementara orang lain justru mengalami guncangan. Para filsuf tidak pernah berusaha dengan sengaja menimbulkan kedua macam reaksi itu.

    MANFAAT (2)

    Kita akan memetik manfaat bukan hanya dari keterlibatan diri kita dalam filsafat pada umumnya, melainkan juga secara khusus dari kegiatan melakukan telaah atau kajian filsafat. Penelaahan filsafat yang efektif, sekali lagi, bersifat luas, mendalam, dan kritis. Relevansi kritis dari penelaahan semacam itu tidak dapat dipungkiri. Singkatnya, dengan melakukan telaah filsafat, kita akan semakin mandiri secara intelektual, lebih toleran terhadap perbedan sudut pandang, dan semakin membebaskan diri dari dogmatisme.

    Pertama, sikap-sikap yang disebutkan di atas dapat berkembang karena luasnya kajian filsafat yang kita lakukan. Perhatikan pertanyaan, “Apakah yang menjadikan tindakan yang benar itu benar?” Banyak jawaban yang secara sepintas nampaknya dapat diterima: besarnya kebahagiaan yang dihasilkan oleh suatu tindakan, kepentingan pribadi, kelangsungan hidup spesies manusia, desakan suara hati, atau apapun yang menurut masyarakat benar. Tidak satupun dari jawaban itu mutlak harus diterima oleh semua filsuf. Barangkali tidak ada disiplin lain yang sedemikian setia untuk melakukan telaah yang ketat dan tidak berat sebelah terhadap “sudut pandang orang lain”. Sudut pandang orang lain itu mungkin nampaknya tidak masuk akal, namun tidak jarang didukung dengan argumen-argumen yang kuat. Menyadari bahwa selain pandangan diri sendiri ternyata ada pandangan-pandangan lain yang argumennnya kokoh, dapat menjadi pengalaman yang membuat frustrasi atau justru membebaskan. Apapun hasilnya, kesadaran itu membuka pintu bagi sikap toleran dan bebas dari dogmatisme.

    Kedua, kebebasan intelektual dan sikap-sikap lainnya yang berkaitan, akan kita peroleh dengan mengkaji persoalan-persoalan filsafat secara mendalam. Dalam suatu kuliah filsafat, misalnya, kita berkesempatan untuk menyelidiki tema-tema yang dalam kuliah lain hanya dibicarakan sambil lalu. Misalnya, dalam kuliah pengantar ilmu pengetahuan kerap dinyatakan bahwa ilmu pengetahuan didasarkan pada prinsip determinisme, yakni keyakinan bahwa segala persitiwa pasti memiliki sebab. Dalam kuliah sosiologi dan antropologi, tesis bahwa moral berbeda-beda dalam setiap kebudayaan sering dinyatakan sebagai bukti atas klaim kontroversial bahwa benar dan salah semata-mata adalah soal kesukaan dan ketidaksukaan seseorang atau sekelompok orang belaka. Dalam kuliah seni, seorang mahasiswa mungkin akan mengatakan bahwa tidak ada kriteria untuk membedakan seni yang baik dari yang buruk; yang ada hanyalah suka atau tidak suka pada yang kita lihat. Masing-masing pernyataan tesebut, dan masih dapat ditambah dengan banyak contoh lain, mengandung berbagai asumsi, implikasi, dan ambiguitas yang biasanya jarang disentuh. Pernyataan-pernyataan semacam itu kerap diterima begitu saja secara tidak kritis sebagai “kebenaran”. Filsafat mengajak kita untuk menguji dan mempersoalkan kembali dogma-dogma yang telah kita anggap benar, mengajak kita untuk mengambil posisi dan menetapkan pendirian.

    Yang ketiga adalah penilaian kritis. Tujuan berfilsafat bukan sekadar meninjau berbagai macam teori, tetapi juga menilainya secara kritis. Entah apapun kesimpulan akhir kita mengenai persoalan tertentu, kita tetap dapat mengembangkan sikap yang kritis secara umum. Sikap kritis berarti tidak menerima sesuatu begitu saja hanya berdasarkan autoritas, mencermati asumsi-asumsi dan ambiguitas-ambiguitas dalam setiap pernyataan yang dapat dipersoalkan (termasuk pernyataan kita sendiri), menolak ikut arus pendapat umum, dan mencari penjelasan dan alasan-alasan bagi hal-hal yang oleh orang lain dianggap sudah jelas. Inilah unsur-unsur kemandirian intelektual. Inti filsafat adalah membentuk pemikiran, bukan sekadar mengisi kepala dengan fakta-fakta.

    Ringkasnya, berfilsafat – mengkaji permasalahan filsafat secara serius – memberikan manfaat pribadi dalam dua cara. Pertama, pengkajian filsafat dapat membawa kepada perubahan keyakinan dan nilai-nilai dasar seseorang, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi arah kehidupan pribadi maupun profesinya. Kedua, pengkajian filsafat dapat membuahkan kebebasan dari dogmatisme, toleransi terhadap pandangan-pandangan yang berbeda, serta kemandirian intelektual.Namun, sudah disinggung sebelumnya, tidak ada jaminan bahwa pengkajian filsafat pasti akan menghasilkan buah-buah itu. Tentu ada hal-hal lain yang juga dapat mengembangkan toleransi, kemandirian intelektual, ataupun perubahan nilai dan keyakinan dasar seseorang. Filsafat hanyalah salah satu alternatif terbaik.

    Mungkin, beberapa dari kita ada yang mempertanyakan apa sebenarnya manfaat praktis yang “nyata” dari mempelajari filsafat, taruhlah dalam soal mencari pekerjaan? Memang, gelar sarjana dalam bidang filsafat tidak akan mempersiapkan kita untuk suatu pekerjaan tertentu, selain mempersiapkan kita untuk studi tingkat pasca-sarjana atau mengajar. Lain halnya dengan bidang-bidang studi lain yang lebih teknis sifatnya. Kelebihan filsafat adalah bahwa ia memperlengkapi kita untuk berbagai bidang non-akademis, dan dalam banyak hal dapat membantu kita mengembangkan diri dalam karier yang kita pilih.

    Posisi-posisi kepemimpinan dan yang memikul tanggung jawab dalam berbagai profesi – kedokteran, hukum, teologi, bisnis, dan lain-lain – menuntut seseorang untuk bergulat dengan permasalahan filsafat. Setiap orang bisa menghafalkan fakta-fakta, sebagaimana yang biasa kita lakukan di sekolah dulu. Namun, lapangan kerja di dunia nyata menuntut jauh lebih banyak dari sekadar menghafalkan fakta-fakta, jika kita memang ingin berhasil dan unggul. “Fakta-fakta” masih perlu dipertanyakan, disusun ulang, ditinjau dari berbagai perspektif, disingkirkan, dipungut lagi, diuji, dan ditimbang-timbang terus secara logis, jelas dan inovatif. Kemampuan untuk melakukan semua itulah yang hendak diperoleh dari belajar filsafat ataupun berfilsafat, entah dari bidang mana pun fakta-faktanya berasal.

    Ringkasnya, mengkaji permasalah filsafat secara serius memberikan manfaat pribadi dalam dua cara. Pertama, pengkajian filsafat dapat membawa kepada perubahan keyakinan dan nilai-niali dasar seseorang, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi arah kehidupan pribadi maupun profesinya. Kedua, pengkajian filsafat dapat membuahkan kebebasan dari dogmatisme, toleransi terhadap pandangan-pandangan yang berbeda, serta kemandirian intelektual. Namun, sudah disinggung di atas, tidak ada jaminan bahwa pengkajian filsafat pasti akan menghasilkan buah-buah itu. Tentu ada hal-hal lain yang juga dapat mengembangkan toleransi, kemandiran intelektual ataupun perubahan nilai dan keyakinan dasar seseorang. Filsafat hanyalah salah satu alternatif terbaik.

    “Fakta-fakta” masih perlu dipertanyakan, disusun ulang, ditinjau dari berbagai perspektif, disingkirkan, dipungut lagi, diuji dan ditimbang terus secara logis, jelas, dan inovatif. Kemampuan untuk melakukan semua itulah yang hendak dikembangkan melalui kegiatan berfilsafat itu sendiri – yang pada hakikatnya merupakan sebuah latihan juga, entah dari bidang manapun fakta-faktanya berasal.

    F U N G S I

    Pada umumnya dapat dikatakan bahwa studi filsafat semakin menjadikan orang mampu untuk menangani pertanyaan-pertanyaan mendasar manusia yang tidak terletak dalam wewenang metodis ilmu-ilmu spesial. Jadi berfilsafat membantu untuk mendalami pertanyaan-pertanyaan asasi manusia tentang makna realitas (filsafat teoretis) dan lingkup tanggung jawabnya (filsafat praktis). Kemampuan itu dipelajarinya dari dua jalur: secara sistematis dan secara historis. Pertama, secara sistematis. Artinya, filsafat menawarkan metode-metode mutakhir untuk menangani masalah-masalah mendalam manusia, tentang hakikat kebenaran dan pengetahuan, baik biasa maupun ilmiah, tentang tanggung jawab dan keadilan, dan sebagainya.

    Jalur kedua adalah sejarah filsafat. Di situ orang belajar untuk mendalami, menanggapi, serta belajar dari jawaban-jawaban yang sampai sekarang ditawarkan oleh para pemikir dan filsuf terkemuka terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut.

    Kemampuan ini memberikan sekurang-kurangnya tiga kemampuan yang memang sangat dibutuhkan oleh segenap orang yang di jaman sekarang harus atau mau memberikan pengarahan, bimbingan, dan kepemimpinan spiritual dan intelektual dalam masyarakat.

    1. Suatu pengertian lebih mendalam tentang manusia dan dunia. Dengan mempelajari pendekatan-pendekatan pokok terhadap pertanyaan-pertanyaan manusia yang paling hakiki, serta mendalami jawaban-jawaban yang diberikan oleh para pemikir terbesar umat manusia, waawasan dan pengertian kita sendiri diperluas.

    2. Kemampuan untuk menganalisis secara terbuka dan kritis argumentasi-argumentasi, pendapat-pendapat, tuntutan-tuntutan dan legitimasi-legitimasi dari berbagai agama, ideologi dan pandangan dunia. Secara singkat, filsafat selalu juga merupakan kritik ideologi. Justru kemampuan ini sangat diperlukan dewasa ini di mana kebudayaan merupakan pasaran ide-ide dan ideologi-ideologi religius dan politis yang mau membujuk manusia untuk mempercayakan diri secara buta kepada mereka. Dalam situasi ini sangat diperlukan kemampuan untuk tidak sekadar menolak ideologi-ideologi itu secara dogmatis dan dari luar, melainkan untuk menanggapinya secara kritis dan argumentatif.

    3. Pendasaran metodis dan wawasan lebih mendalam dan kritis dalam menjalani studi-studi di ilmu-ilmu spesial, termasuk teologi.

    Dengan mempertimbangkan hal di atas, dapat dikatakan bahwa filsafat, demikian kegiatan berfilsafat, sangat diperlukan oleh profesi-profesi seperti pendidik, wartawan, pengarang dan penerbit, budayawan, sosiolog, psikolog, ilmuwan politik, agamawan, dan teolog.

    Di samping itu, filsafat juga mempunyai fungsi khusus dalam lingkungan sosial budaya Indonesia

    1. Bangsa Indonesia berada di tengah-tengah dinamika proses modernisasi yang meliputi semakin banyaknya bidang dan hanya untuk sebagiannya dapat dikemudikan melalui kebijakan pembangunan. Menghadapi tantangan modernisasi dengan perubahan pandangan hidup, nilai-nilai dan norma-norma itu, filsafat membantu untuk mengambil sikap yang sekaligus terbuka dan kritis.

    2. Filsafat merupakan sarana baik untuk menggali kembali kekayaan kebudayaan, tradisi-tradisi, dan filsafat Indonesia untuk mengaktualisasikannya bagi Indonesia modern yang sedang kita bangun.

    3. Filsafatlah yang paling sanggup untuk mendekati warisan rohani tidak hanya secara museal dan verbalistik, melainkan secara evaluatif, kritis dan refleksif, sehingga kekayaan rohani bangsa dapat menjadi modal dalam pembentukan terus-menerus identitas modern bangsa Indonesia.

    4. Sebagai kritik ideologi, filsafat membangun kesanggupan untuk mendeteksi dan membuka kedok-kedok ideologis pelbagai bentuk ketidakadilan sosial dan pelanggaran-pelanggaran terhadap martabat dan hak-hak asasi manusia yang masih terjadi. Jadi filsafat membuat sanggup untuk melihat secara terbuka masalah-masalah sosial serta percaturan kekuasaan yang sedang berlangsung.

    5. Filsafat merupakan dasar paling luas untuk berpartisipasi secara kritis dalam kehidupan intelektual bangsa pada umumnya dan khususnya dalam kehidupan intelektual di universitas-universitas dan lingkungan akademis. Filsafat dapat berfungsi sebagai interdisipliner sistem, tempat bertemunya berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Di universitas-universitas, fakultas filsafat sering disebut “fakultas sentral” atau “inter-fakultas”, karena semua fakultas lain, yang selalu menyelidiki salah satu segi dari kenyataan, menjumpai pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan refleksi yang tidak lagi termasuk bidang khusus mereka. Misalnya, pertanyaan tentang batas-batas pengetahuan kita, tentang asal bahasa, tentang hakikat hidup, tentang hubungan badan dan jiwa, tentang hakikat materi, tentang dasar moral.

    6. Salah satu fungsi terpenting filsafat adalah bahwa ia menyediakan dasar dan sarana sekaligus bagi diadakannya dialog di anatara agama-agama yang ada di Indonesia pada umumnya dan secara khsus dalam rangka kerja sama antar-agama dalam membangun masyarakat adil-makmur. Jadi filsafat adalah dasar bagus bagi dialog antar-agama, karena argumentasinya mengacu pada manusia dan rasionalitas pada umumnya, tidak terbatas pada pendekatan salah satu agama tertentu, itu pun tanpa mengurangi pentingnya sikap beragama. Justru para agamawan memerlukan filsafat supaya dapat bicara satu sama lain dan bersama-sama memecahkan masalah-masalah sosial dan masalah-masalah nasional.

    T U G A S

    Salah satu alasan mengapa seorang berfilsafat adalah karena memang dalam diri filsafat itu sendiri mengandung suatu tugas. Kita sudah mengetahui bahwa filsafat didasari oleh suatu kebebasan berpikir, namun suatu kebebasan berpikir yang ditandai oleh hasrat keakraban dengan kebenaran yang dikandung oleh penampilan realitas. Sementara, tidak semua bentuk berpikir dalam filsafat harus terus-menerus dijamin oleh kesungguhan dan kejujuran dalam menempuh tahap-tahap pikiran menuju kebenaran, sedangkan kesaksian terhadap kesungguhan dan kejujuran ini tidak bisa diterapkan oleh orang lain kecuali oleh nurani filsuf yang bersangkutan.

    Oleh karenanya, orang yang berfilsafat adalah orang yang berpikir sambil bertanggungjawab. Di sinilah letak tugasnya, yang sudah menjadi sifat filsafat itu sendiri, yang terpenting. Refleksi tentang ini diuraikan dengan bagus oleh sejumlah pemikir jaman kita, seperti Karl Popper, Gabriel Marcel dan Alfred North Whitehead.

    * Karl Popper

    Tugas filsafat sekarang ini, menurut Sir Kal Popper (lahir di Wina 1902, mengajar filsafat di Inggris, Selandia Baru dan Amerika Serikat), lebih-lebih “berpikir kritis tentang alam raya dan tentang tempat manusia di dalamnya; berpikir tentang kemampuan-kemampuan pengetahuan kita dan kemampuan-kemampuan kita terhadap kebaikan dan kejahatan”. (K. Popper, “How I See Philosophy”, dalam: Ch. Bontempo – S. Jack Odell, The Owl of Minerva, Philosophers on Philosophy, New York 1975, hlm. 55.)

    Hidup kita di dunia ini – sebuah planet kecil dalam kosmos yang sebagian besar kosong – merupakan suatu misteri besar. Hidup mempunyai nilai sebagai sesuatu yang sangat istimewa. Hidup itu mahal. Kita cenderung untuk melupakan itu dengan memandanganya sebagai sesuatu yang murah.

    “Semua orang adalah filsuf, karena semua mempunyai salah satu sikap terhadap hidup dan kematian. Ada orang yang berpendapat bahwa hidup itu tanpa harga, karena hidup ini akan berakhir. Mereka tidak menyadari bahwa argumen yang terbalik juga dapat dikemukakan, yaitu bahwa – kalau hidup tidak akan berakhir – hidup tanpa harga, dan bahwa bahaya yang selalu hadir, yaitu bahwa kita dapat kehilangan hidup, sekurang-kurangnya ikut menolong untuk menyadari nilai dari hidup.” (K. Popper, “How I See Philosophy”, hlm. 55.)

    * Gabriel Marcel

    Gabriel Marcel (lahir di Paris 1889, meninggal 1973) melihat filsafat sebagai “reconaissance”. Kata Perancis ini berarti sekaligus “mengingat”, “mengakui”, “menyelidiki” dan “berterima kasih”. Gabriel Marcel menekankan dua arti, yaitu “penyelidikan” dan “sikap berterima kasih” atau “penghargaan”. Kedua arti ini dari “reconaissance” (dalam bahasa Inggris “recognation” dan “acknowledgement”) memperlihatkan kedua dimensi pengetahuan manusia: masa lampau dan masa depan.

    · Terhadap masa lampau kita harus berterima kasih, mengakui bahwa kita berhutang. “Reconaissance” ini dilupakan oleh para teknokrat dan ideolog. Karena mereka hanya memilih salah satu unsur atau ajaran dari seluruh warisan sejarah filsafat. Dan bagian kecil ini – misalnya ajaran Marx – kemudian didewakan. Sikap ini berarti suatu devaluasi dari semua sistem yang mendahului sistem satu-satunya yang didewakan itu.

    Terhadap masa depan kita harus terbuka: siap untuk menyelidiki dan menerima.

    Tugas filsafat sekarang ini, kata Gabriel Marcel, terdiri dari kedua jenis “reconaissance” ini: sikap penghargaan dan sikap keterbukaan, kerelaan untuk menerima, “acceptance”. Dengan demikian filsafat menjadi suatu “re-thinking”, suatu refleksi kedua yang dapat mengatasi jurang yang dialami manusia dalam jaman kita, yaitu jurang antara sikap teknis dan analitis di satu pihak dan hidup di lain pihak. (G. Marcel, “Philosophy as I See it Today”, dalam Ch. Bontempo – S. Jack Odell, The Owl of Minerva, Philosophers on Philosophy, New york 1975, hlm. 119-122.)

    Gabriel Marcel mengemukakan sesuatu yang sangat klasik. Plato sudah mengajar bahwa “mengetahui” sebetulnya “mengingat”, dan Hediegger mengatakan bahwa “berpikir” (dalam bahasa Jerman “denken, bahasa Inggris “to think”) harus bersifat “berterima kasih” (dalam bahasa Jerman “danken”, bahasa Inggris “to thank”). Berpikir itu sesuatu yang dianugerahkan kepada kita, sesuatu yang harus dihargai dan diterima.

    * Alfred North Whitehead

    Alfred North Whitehead (1861-1947 mengajar matematika dan filsafat di Cambridge, Inggris, dan di Harvard, Amerika Serikat) menguraikan tugas filsafat dengan kata-kata ini:

    Filsafat itu tidak salah satu ilmu di antara ilmu-ilmu lain. “Filsafat itu pemeriksaan (‘survey’) dari ilmu-ilmu, dan tujuan khusus dari filsafat itu menyelaraskan ilmu-ilmu dan melengkapinya.” (A.N. Whitehead, Science and the Modern World, Cambridge 1953, hlm. 108.)

    Filsafat mempunyai dua tugas: menekankan bahwa abstraksi-abstraksi dari ilmu-ilmu betul-betul hanya bersifat abstraksi (maka tidak merupakan keterangan yang menyeluruh), dan melengkapi ilmu-ilmu dengan cara ini: membandingkan hasil ilmu-ilmu dengan pengetahuan intuitif mengenai alam raya, pengetahuan yang lebih konkret, sambil mendukung pembentukan skema-skema berpikir yang lebih menyeluruh.

    Definisi Whitehead ini – filsafat sebagai “survey of sciences” – diterima oleh banyak orang dewasa ini. Definisi Whitehead masih dapat diperluas sedikit: filsafat itu tidak hanya “survey of sciences”, melainkan juga “survey” (atau”re-thinking”) dari semua ideologi, semua interpretasi mengenai dunia, dan dari seluruh kenyataan manusiawi.

    Ketiga uraian dari Popper, Marcel dan Whitehead dapat dibaca sebagai satu definisi: Tugas filsafat itu “berpikir kritis tentang alam raya dan tentang tempat kita di dalamnya (Popper), “re-thinking” dengan “sikap keterbukaan dan penghargaan” (Marcel), penyelidikan kritis mengenai hasil ilmu-ilmu abstrak untuk mencapai suatu gambaran yang lebih menyeluruh (Whitehead).

    Istilah-istilah lain yang sekarang sering terdengar dalam uraian-uraian mengenai tugas filsafat: “re-interpretasi” kenyataan manusiawi, “penciptaan suatu bahasa umum yang dapat dipakai sebagai bagian dari semua ilmu khusus”, “dialog yang mendamaikan abstraksi-abstraksi dan spesialisme-spesialisme ilmu-ilmu”, dan “mencari hikmat di tengah semua pengetahuan”.

    Tidak begitu penting uraian mana yang dipilih. Yang penting adalah suatu sikap tertentu, yaitu sikap keterbukaan dalam berfilsafat dan memikul tugas yang memang sudah melekat padanya. Cakrawala pengetahuan kita semakin luas. Namun kita tidak boleh melupakan bahwa pengetahuan yang luas ini tidak pernah utuh. Kita tidak “memiliki” kebenaran. Filsafat mencari kebenaran, dan itu mulai dengan menyadari betapa sedikit yang sungguh kita ketahui.

    (Sumber : http://www.filsafatkita.f2g.net)

    About these ads

    1 Komentar

    1. 29 Juni 2010 at 16:26

      Trims infonya…Berfilsafat….jarang orang mengerti filsafat termasuk saya he..he….Tidak ada orang ketabrak merah, adanya ketabrak mobil merah…dsb .Filsafat……


    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.